DAFTAR
ISI
1.
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
1.2 Rumusan
masalah
1.3 Tujuan
Penulisan
2.
PEMBAHASAN
2.1 perkembangan
kemampuan gerak dasar
2.2 perkembangan
fase gerak
2.3 perkembangan
keterampilan gerak
3.
PENUTUP
4.
DAFTAR RUJUKAN
I.
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Anak-anak
mendapat tempat istimewa dalam masyarakat karena mereka yang akan menjadi
generasi penerus. Untuk hal itu maka perkembangan anak juga harus mendapat
perhatian yang khusus demi masa depan yang baik, dalam hal sekecil apapun kita
melakukan atau mengajarkan proses belajar yang salah maka stimulus respon
mereka juga akan negatif .“Belajar merupakan perubahan perilaku atau perubahan
kecakapan yang mampu bertahan dalam waktu tertentu dan bukan berasal dari
proses pertumbuhan (Gagne,1989)”. Dan proses belajar anak dapat mereka lakukan
di mana saja (sumber belajar).
Dan
banyak sekali pada kondisi saat ini keluarga,lingkungan itu tidak memahami
proses pertumbuhan anak. Banyak anak yang ditekan dan ditarik kedalam proses
yang belum seharusnya mereka lakukan (demi kepuasan orang tua). Contoh: anak
usia sekitar 5-8 tahun yang seharusnya masih banyak bergerak tapi mereka di
hadapkan pada jadwal bimbel. Memang hal itu ada dampak positifnya demi
perkembangan kognitifnya. Tapi dampak pada yang akan datang, anak itu akan mulai
bosan dengan materi belajar disekolah dan keterampilan geraknya tidak dapat
maksimal atau otomatisasi gerak anak tidak dapat berkembang . Padahal manusia
mempunyai gerak dasar yaitu:Lokomotor,Nonlokomotor,Manipulasi. Jika anak tidak
melakukan belajar atau tidak mengasah gerak dasar ini, apa yang akan
terjadi?tetap saja anak tidak akan tumbuh dan berkembang dengan maksimal.
Demi
memaksimalkan anak dalam belajar motoriknya,” Belajar motorik sebagai
peningkatan dalam suatu keahlian keterampilan motorik yang disebabkan oleh
kondisi-kondisi latihan atau diperoleh dari pengalaman,dan bukan karena proses
kematangan atau motivasi temporer dan fluktuasi fisiologis” (Rahantoknam,1988).
Karena proses ini sangat mendasar maka perlu di lakukannya suatu hal yang dapat
meningkatkan belajar motorik hingga ketempilan gerak anak dapat berkembang.
Untuk
meningkatkan belajar motorik anak juga perlu didasari dengan teori yang ada dan
sebuah penelitian langsung terhadap proses belajar motorik anak. Untuk
mengetahui hasilnya dengan valid.
1.2
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
perkembangan kemampuan gerak dasar?
2. Bagaimana
perkembanganfasegerak?
3. Bagaimana
perkembanganketerampilan gerak?
1.3
Tujuan
Penulisan
1. Dapat
memahami bagaimana cara menigkatkan proses pembelajaran gerak anak
2. Dapat
memahami bagaimana cara menigkatkan kemampuan gerak dasar anak
3. Dapat
memahami bagaimana cara mrningkatkan pembelajaran keterampilan gerak anak.
2.
PEMBAHASAN
2.1 Perkembangan kemampuan gerak dasar.
Gerak dasar fundamental
mulai dapat dilakukan oleh seseorang sebagian pada masa bayi dan sebagian pada
masa kanak-kanak.
Terdapat tiga
gerakdasar utama yang melekat pada setiap individu yaitu: a) gerak lokomotor,b)gerak
nonlokomotor,c) gerak manipulatif.
Penelitian gerak dasar
anak
a. Gerak
lokomotor
Anak umur 8 bulan dia
melihat suatu benda yang menarik perhatiannya tapi tidak terjangkau oleh
tangannya, dia akan mulai menggerakkan tubuhnya atau mengtengkurapkan badannya
dan berusa menggapainya dengan cara kakinya mencari tumpuan agar badannya dapat
maju dan menggapai benda tersebut atau dia dapat merangkak maju (jika sudah
merangkak). Penelitiannya memberikan sebuah objek/ bentak yang berwarnacerah
yang dapat menarik perhatiannya untuk melihat bagaimana dia merespon dan
melakukan gerakan untuk bisa menggapainya.
Tapi jika anak berusia
2 tahun akan terlihat gerak lokomotornya ketika dia berjalan dan menemui sebuah
lubang dia akan meloncatinya. Penelitiannya anak disuruh atau memberi permainan
untuk meloncati bentuk petak-petak yang sudah dibuat, dan ada lagi anak disuruh
loncati garis yang sudah dibuat. Maka dari situlah akan terlihat gerak
lokomotor anak
b. Gerak
nonlokomotor
Bayi
yang baru lahir juga pasti akan bisa menekuk tangannya ketika tangannya mencoba
untuk bergerak mengusap wajahnya. Dan hari ke hari berikutnya bayi juga akan
menekukkan kakinya untuk gerakan menendang pada dia mandi,menangis,dan tidur
c. Gerak
manipulasi
Untuk gerakan yang terakhir ini adalaha yang
istimewa karena gerak manipulasi yang memadukan gerak lokomotor dan gerak
manipulasi, contoh: seorang anak yang sedang mendrible bola basket.Dia akan
memerlukan koordinasi mata tangan atau bagian tubuh yang lain.
Pada
anak usia 2-4 tahun diberi bola basket kemudia mereka akan penasaran dengan
bola tersebut karena disaat bola di jatuhkan kebawah bola tersebut akan kembali
lagi keatas, maka anak akan memantul-mantulkan bola secara terus menerus dan
bisasaja anak berlari sambil memantul-mantulkan bola basket tersebut.
Peningkatan
gerak
Meskipun gerak
fundamental itu sudah ada atau bawaan sejak lahir tapi juga perlu adanya
latihan atau peningkatan gerak tersebut, jika anak mulai terbiasa melakukan
gerak dasar mereka. Jadi anak tidak akan sulit melakukan atau memperaktekkan
gerak untuk berolahraga. Gerak fundamental ini dapat dilatih dan ditingkatkan
kepada anak melalui pola permainan yang masi berteori tentang gerak dasar
anak,contoh: merangkak,berjalan,menekuk kaki,menggiring bola. dengan variasi
permainan dan berprinsip pada contoh gerak manusia itu juga dapat meningkatkan
gerak fundamental anak.
2.2 Perkembangan fase belajar gerak
Robb (1972), membagi tahap belajar
motorik dalam beberapa tahap yaitu:
1) Tahap
pembentukan rencana
2) Tahap
latihan
3) Tahap
pelaksanaan.
Schmidt,(1988) mengutip pendapat Fitts
dan Posner yang menyatakan bahwa belajar keterampilan motorik berlangsung
mmelalui beberapa fase,yaitu
1) Fase
kognitif
2) Fase
fiksasi (asosiasi)
3) Fase
otomatisasi.
Merril (1976) menggambarkan bahwa
belajar motorik terdiri dari tahap penguasaan,penghalusan dan penstabilan
motorik atau keterampilan teknik olahraga.
·
Proses Kognitif
Skema Menurut Piaget (1954), saat
bayi atau anak mencoba untuk membangun pemahaman tentang dunia,otak yang sedang
berkembang menciptakan skema tersebut. Hal ini adalah tindakan atau reperentasi
mental yang mengorganisasi pengetahuan. Dalam teori Piaget,skema perilaku
(aktivitas fisik) membedakan masa bayi dan perkembangan skema mental (aktivitas
kognitif) pada masa kanak-kanak (Lamb,Bornstein,&Teti,2002). Sebuah skema bayi
terstruktur oleh tindakan-tindakan sederhana yang dapat dilakukan terhadap
sebuah obyek,seperti mengisap,melihat,dan menggenggam. Anak-anak yang lebih tua
memiliki skema yang meliputi strategi dan rencana untuk memecahkan masalah. Pada
saat ini, kita telah mencapai masa dewasa,kita telah membangun sejumlah besar
skema yang beragam mulai dari mengetahui bagaimana mengendarai mobil hingga
menyeimbangkan anggaran hingga memahami konsep keadilan.
·
Asimilasi dan Akomodasi
Untuk menjelaskan bagaimana anak-anak menggunakan dan
mengadaptasikan skema mereka,Piaget menawarkan dua konsep, yaitu asimilasi dan
akomodasi. Asimilasi terjadi ketika anak-anak menggunakan skema mereka yang
sudah ada untuk berurusan dengan informasi atau pengalaman. Akomodasi terjadi
ketika anak-anak menyesuaikan diri dengan skema mereka untuk mempertimbangkan
informasidan pengalaman baru.
Pikirkan tentang seorang anak usia (1-3tahun) yang telah
mempelajari kata mobil untuk
mengidentifikasi mobil keluarga.tersebut mungkin menyebut semua kendaraan yang
bergerak di jalan sebagai “mobil”,termasuk sepeda motor dan truk, anak itu
telah mengasimilasi objek-objek tersebut ke dalam skemanya yang telah ada. Akan
tetapi, anak tersebut segera belajar bahwa motor dan truk bukanlah mobil dam
menyelaraskan kategori untuk mengecualikan sepeda motor dan truk,sehingga
mengakomodasikan skema tersebut.
Asimilasi dan Akomodasi berfungsi
bahkan pada bayi yang sangat muda. Bayi yang baru lahir secara refleks mengisap
semua hal yang menyentuh bibir mereka, mengasimilasikan segala macam objek kedalam
skema mengisap mereka. Dengan mengisap objek yang berbeda, mereka belajar
tentang selera,tekstur,bentuk dan sebagainya. Namun demikian,setelah pengalaman
beberapa bulan, mereka membangun pemahaman mereka tentang dunia secara berbeda.
Beberapa objek, seperti jari dan payudara ibu dapat diisap dan objek lainnya
seperti selimut bulu tidak boleh diisap. Dengan kata lain, mereka megakomodasi
skema megisap mereka merupakan bagian intergral dan perkembangan. Seorang anak
laki-laki yang hanya memiliki gagasan yang samar tentang bagaimana menggunakan
palu juga mungkin memiliki gagasan yang samar mengenai bagaimana menggunakan
alat-alat lain. Setelah mempelajari dengan penggunaan-penggunaan
tersebut,mengorganisasi pengetahuannya.
Menurut Piaget, anak-anak terus menerus
megasimilasi dan mengakomodasi saat mereka mencari ekuilibrium. ada gerakan
yang cukup besar antara keadaan-keadaan
ekuilibrium dan disekuilibrium kognitif sebagai asimilasi dan akomodasi
yang bekerja sama untuk menghasilkan perubahan kognitif. Ekuilibrium adalah
nama yang diberikan Piaget pada mekanisme ini, ketika anak bergerak ketahap
berikutnya.
·
Tahap Sensorik-motorik
Tahap
sensorik-motorik berlangsung sejak lahir hingga sekitar usia 2tahun. Pada tahap
ini, bayi mengembangkan pemahaman tentang dunia dengan mengoordinasikan
pengalaman sensoris (seperti melihan dan mendengar) dengan tindakan-tindakan
motorik fisik-sehingga diistilahkan “sensoris-motorik”. Pada awal tahap ini,
bayi yang baru lahir memiliki lebih sedikit refleks yang bekerja. Pada akhir
tahap sensoris-motorik,anak berusia 2 tahun dapat menghasilkan pola yang
kompleks dan menggunakan simbol-simbol primitif. Kami meringkas deskripsi
Piaget mengenai bagaimana bayi berkembang :
|
No
|
Subtahap
|
Usia
|
Deskripsi
|
Contoh
|
|
1.
|
Refleks sederhana
|
Lahir-1 bulan
|
Koordinasi
sensasi dan tindakan melalui perilaku reflektif
|
Refleks
rooting (memalingkan muka bila pipinya disentuh),mengisap,dan menggenggam;
bayi yang baru lahir secara reflek akan mengisap ketika bibirnya disentuh
|
|
2.
|
Kebiasaan pertama dan
reaksi sirkular primer
|
1-4 bulan
|
Koordinasi sensasi dan
dua jenis skema: kebiasaan (refleks)dan reaksi sirkular primer (reproduksi
dari sebuah peristiwa yang awalnya terjadi secara kebetulan). Fokus utamanya
masih pada tubuh bayi
|
Mengulang sensai
tubuh dari pengalaman pertama yang dialami secara kebetulan (misalnya
mengisap ibu jari);kemudian bayi mungkin mengakomodasikan tindakan-tindakan
dengan mengisap jempol mereka secara berbeda dari yang mereka isap dari
puting susu.
|
|
3.
|
Reaksi sirkular
sekunder
|
4-8 bulan
|
Bayi menjadi lebih
berorientasi pada objek, bergerak di luar kesibukandengan diri sendiri;
mengulangi tindakan yang membawa hasil yang menarik atau menyenangkan.
|
Bayi berbisik untuk
membuat seseorang tetap dekat,saat orang-orang beranjak pergi,bayi bebisik
lagi.
|
|
4.
|
Koordinasi reaksi
sirkular sekunder
|
8-12 bulan
|
Koordinasi
penglihatan dan sentuhan koordinasi tangan-mata;koordinasi skema dab
intensional.
|
Bayi memanipulasi
sebuah tongkat untuk menarik sebuah mainan yang menarik yang berda dalam
jangkauan.
|
|
5.
|
Reaksi sirkular
tersier kebaruan,dan rasa ingin tahu
|
12-16 bulan
|
Bayi menjadi tertarik
oleh banyak sifat-sifat objek dan berbagai cara mereka yang dapat membuat
sesuatu terjadi pada objek tersebut; mereka bereksperimen dengan perilaku
baru.
|
Sebuah blok dapat
dibuat jatuh,berputar,membentur objek lagi,dan meluncur di tanah
|
|
6.
|
Internalisasi skema
|
18-24 bulan
|
Bayi mengembangkan
kemampuan untuk menggunakan simbol-simbol primitif dan bentuk representasi
mental yang bertahan lama.
|
Bayi yang tidak
pernah menunjukkan perilaku marah sebelum ia melihat seorang teman bermain
mengamuk;bayi tersebut menyimpan memori kejadian itu,kemudian membuang
sendiri satu memori pada hari berikut
|
Penelitian
mengenai Perkembangan Anak
Ø Contoh
penelitian Piaget
Permensasai
objek adalah salah satu hal yang menonjol dalam pencapaian kognitif pada masa
bayi. Contoh : bayi laki-laki usia 5 bulan di dudukkan dan di hadapkan pada
sebuah boneka monyet yang di taruh di atas meja tepat berada di depannya. Bayi
terssebut melihat pada mainan monyet (kiri), tetapi ketika pandangannya ke
mainan itu di halangi (kanan), ia tidak mencari. Beberapa bulan kemudian, ia
akan mencari mainan monyet tersembunyi tersebut, mencerminkan adanya permanensi
objek (untuk perkembangan kognitif).
Ø Anak
belajar bermain bulutangkis
Kognisi Fiksasi Otamatisasi
a. kognisi
Untuk
tahap awal mereka hanya melihat pertandingan bulutangkis secara langsung atau
mereka hanya menonton pertandingan lewat televisi dari situlah anak juga dapat
termotivasi dengan permainan bulutangkis. Pada tahap ini anak akan berusaha
memahami bentuk-bentuk gerakan yang dipelajarinya, keterampilan intelektual
banyak dilibatkan pada tahap ini. Anak mulai mencoba-coba melakukan tugas
motorik, dan anak yang bersangkutan dihadapkan dengan tugas yakni apa yang
harus dilakukan untuk bisa melakukan teknik permainan bulutangkis. Pada tahap
ini anak harus memahami apa yang diperlukan oleh keterampilan atau teknik dasar
bulutangkis,seperti:servis,pukulan bachand,pukulan loop dll. Anak yang
memperoleh konsep verbal yang cukup dan dapat mencerna teknik dasar bulutangkis
tersebut sampai taraf tertentu pada fase ini.
b. Fiksasi
Tahap
kedua yang berlangsung setelah tahap pertama selesai. Dari tahap ini anak mulai
memusat perhatiannya untuk melakukan pola motorik atau latihan melakukan teknik
dasar bulutangkis yang baik (benar),seperti melakukan ;servis,pukulan
loop,pukulan backhan,smash dll. Pada tahap ini gerakan yang dilakukan anak
tidak lagi untung-untungan,tetapi makin konsisten. Gerakan anak makin terpola.
c. Otomatisasi
Tahap
ini adalah tahap yang paling akhir dari belajar motorik. Pada fase ini anak
mampu melakukan seluruh rencana palaksanaan secara otomatisasi atau tanpa
disadari sama sekali. Dan hal ini pasti akan terlihat ketika anak melakukan
pertandingan bulutangkis dia akan secara otomatisasi bergerak sesuai teknik
dalam melakukan servis,pukulan smash dll.
2.3 Perkembangan keterampilan motorik
keterampilan motorik
dapat diklasifikasikan dari berbagai sudut pandang. Pada bagian ini akan dikaji
klasifikasi keterampilan motorik berdasarkan kecermatan gerak,awal dan
berakhirnya suatu kegiatan,stabilitas lingkungan,gerak obyek dan lingkungan,dan
keterasingan terhadap suatu keterampilan.
1. Klasifikasi
berdasarkan kecermatan gerak
a). keterampilan motorik kasar
Dalam
keterampilan motorik kasar ini anaksering menggunakannya dalam kegiatan sehari
hari berjalan,berlari,memukul dan sebagainya. Keterampilan motorik kasar ini
sangat berkaitan dengan otot-otot besar yang ada pada dalam tubuh manusia. Dan
hampir untuk keterampilan olahraga itu saat berdominan memakai otot-otot besar
tapi juga masih ada keterampilan motorik halusnya untuk penyesuaian diri. Maka
sebab itu olahraga sebagai kelompok keterampilan motorik kasar.
b). Keterampilan motorik halus
Keterampilan gerak halus lebih
menunjukkan kepada kualitas gerak yang lembut. Kunci keberhasilan keterampilan
motorik halus ini salah satunya ditentukan oleh koordinasi Ineuromusculer, anak akan menggunakan keterampilan motorik halus
ini ketika :menulis,menggambar dll. Semua gerak yang melibatkan otot-otot
kecil/halus.
2. Klasifikasi
Berdasarkan titik awal dan akhir gerak
a). keterampilan motorik diskrit
Sebagai
perkembangan keterampilan motorik diskrit akan terlihat dalam renang yaitu pada
saat melakukan loncat indah,dan ada juga pada gerakan senam lantai mengguling
kedepan sekali. Karena gerakan ini di lakukan sangat cepat dan perlu dukungan
kemampuan kognitif.
b). Keterampilan motorik serial
keterampilan
motorik serial merupakan gabungan dari beberapa keterampilan motorik
terputusyang dilakukan secara berulang-ulang. Poulton (1966) dan travers
(1977), berdasarkan penelitiannya menyimpulkan,penampilan akan menjadi efektif
apabila situasi yang diantisipasi dan penyesuaian diri dipersiapkan(dalam
singer,1980). Contoh keterampilan motorik berangkai adalah gerakan mengguling
ke depan beberapa kali, latihan smash tenis meja gengan bantuan alat pelempar
dll.
3
PENUTUP
Kesimpulan
Penelitian
dalam belajar motorik adalah suatu upaya untuk mengetahui perkembangan gerak
anak dari hasil belajar gerak anak dan untuk meningkatkan motorik yang di
miliki anak. Belajar motorik sangat penting untuk anak dalam berkembang. Dari
penelitian gerak anak maka dapat di simpulkan bahwa anak mempunyai rangkaian
untuk melakukan gerakan. Untuk melakukan 1 gerakan saja itu juga melalui proses
dalam otak dan sistem motorik yang ada,misal:melakukan servis bulutangkis, anak
juga perlu pemahaman,latihan,hingga bisa melakukannya dengan baik. Tapi tidak
sama dengan gerak dasar anak yang sudah mereka miliki sejak lahir,seperti:lokomotor,nonlokomotor,manipulasi
dan ada juga gerak refleks
DAFTAR RUJUKAN
M.E Winarno,1994,BELAJAR MOTORIK
Dr. Asim, M.Pd,2001,PERTUMBUHAN DAN
PERKEMBANGAN MOTORIK
John W.Santrock,2011,MASA PERKEMBANGAN
ANAK.
Dr. Rusli Lutan,1988,BELAJAR
KETERAMPILAN MOTORIK PENGANTAR TEORI DAN METODE.
Drs. Syahrial Bahtiar,M.Pd,,BELAJAR MOTORIK
Tidak ada komentar:
Posting Komentar